TANIMBAR – Krisis air bersih yang melanda Desa Alusi Tamrian, Kecamatan Kormomolin, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, kini memasuki fase yang sangat memprihatinkan. Warga setempat terpaksa harus berjuang keras demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari akibat kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut.
Berdasarkan pemantauan dan keterangan warga setempat, sejumlah mata air serta sumber air utama yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat Desa Alusi Tamrian kini hampir mengering. Kondisi ini diperparah oleh beberapa faktor yang saling berkaitan.
Penyebab Utama Krisis Air Bersih
Tokoh Pemuda Desa Tamrian, Yosep Titirlolobi, mengungkapkan ada tiga faktor utama yang memicu parahnya krisis air bersih di wilayahnya.
"Pertama, musim kemarau panjang yang terjadi musim ini berakibat fatal, semua mata air dan sumber air debitnya turun drastis. Kedua, adanya pengrusakan di sekitar wilayah sumber air akibat longsor dan banjir di daerah resapan. Ketiga, tidak adanya pemeliharaan rutin pada sumber-sumber air yang ada," jelas Yosep.
Pemerintah Desa bersama warga sebenarnya telah berupaya melakukan perbaikan instalasi pipanisasi lama secara swadaya. Namun, langkah tersebut belum membuahkan hasil maksimal karena terkendala keterbatasan anggaran desa yang sangat minim.
"Hendaknya ada perhatian khusus dari Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Pusat terkait pembiayaan untuk membangun pipanisasi yang baru untuk air bersih dari sumber air menuju pemukiman warga desa. Jaraknya sekitar 5 kilometer. Selain itu, hendaknya dibangun juga bak penampungan pada sumber mata air tersebut," tegas Yosep.
Suara Tokoh Masyarakat dan Pemerintah Desa
Senada dengan tokoh pemuda, Tokoh Masyarakat Desa Tamrian yang juga Ketua Dewan Pastoral Stasi Tamrian, Petrus Resilai, menyuarakan keresahan serupa. Menurut Petrus, kelangkaan air bersih ini bukanlah hal baru. Setiap musim kemarau tiba, warga Desa Tamrian selalu menghadapi persoalan yang sama.
"Ketika musim kemarau, ketersediaan air bersih selalu kurang. Kami menyuarakan dan meminta uluran tangan dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat untuk memprioritaskan anggaran pembangunan sarana air bersih di Desa Tamrian. Ini adalah kebutuhan mendasar hidup kami," ujar Petrus Resilai penuh harap.
Sementara itu, Kepala Desa Alusi Tamrian, Matias Rangkoli, membenarkan kondisi memprihatinkan tersebut. Ia menyampaikan harapan besar agar ada intervensi anggaran dari pemerintah tingkat atas.
Kades Matias menegaskan bahwa air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar dan mendesak bagi masyarakatnya. Pihak desa telah berusaha maksimal memanfaatkan anggaran yang ada, tetapi infrastruktur skala besar tidak mungkin ditanggung oleh APBDes semata.
"Kami dari Pemerintah Desa Alusi Tamrian sudah berupaya dengan anggaran yang terbatas. Namun, untuk pembangunan pipanisasi baru sepanjang 5 kilometer beserta bak penampungan di sumber mata air, kami sangat membutuhkan dukungan anggaran dari Pemkab Kepulauan Tanimbar, Pemprov Maluku, dan Pemerintah Pusat. Kami berharap ini bisa menjadi program prioritas pembangunan pada Tahun 2027," ungkap Kades Matias Rangkoli.
Dampak Serius Bagi Masyakat
Krisis ketersediaan air bersih ini membawa dampak mendalam yang dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat Desa Alusi Tamrian, di antaranya:
Krisis Konsumsi Rumah Tangga: Ketersediaan air untuk minum, memasak, dan kebutuhan harian sangat terbatas. Warga terpaksa berjalan jauh dan mengantre berjam-jam untuk mendapatkan pasokan air.
Gangguan pada Aktivitas Pendidikan: Banyak anak sekolah terlambat hadir karena harus mengantre air, membantu orang tua mencari pasokan air bersih, serta kesulitan menjaga kebersihan diri sebelum berangkat sekolah.
Ancaman Kesehatan Masyarakat: Minimnya air bersih berpotensi menurunkan kualitas sanitasi lingkungan. Berbagai penyakit akibat sanitasi yang buruk kini mengintai warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia (lansia).
Harapan Warga Desa Alusi Tamrian
Masyarakat Desa Alusi Tamrian berharap pemerintah tidak menutup mata atas kondisi ini. Mereka memohon agar proyek rehabilitasi dan pembangunan pipanisasi air bersih sepanjang 5 kilometer—beserta bak penampungan permanen di sumber mata air—dapat segera direalisasikan.
Bagi mereka, akses terhadap air bersih merupakan hak dasar setiap warga negara yang wajib dipenuhi oleh negara. Warga berharap jeritan dari ujung timur Indonesia ini dapat segera didengar dan ditindaklanjuti oleh para pemangku kebijakan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat.



0Komentar
Berikan Komentar yang Sopan dan Santun !