GUz5TUCoTfzoTUW6TUdoTfzlGY==
Breaking
News

Laju Penurunan Populasi Jepang Melonjak Tiga Kali Lipat, Tokyo Makin Padat

Ukuran huruf
Print 0

Pekerja penitipan anak yang membawa anak anak kecil keluar

TOKYO — Laju krisis demografi di Jepang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan hasil survei Sensus Nasional terbaru dari Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang, populasi Negeri Sakura tersebut menyusut sebanyak 3.096.575 jiwa atau turun 2,5 persen dibandingkan hasil sensus tahun 2020.

Angka ini menunjukkan peningkatan laju penurunan populasi hingga lebih dari tiga kali lipat jika dibandingkan dengan periode 2015–2020 yang tercatat sebesar 0,7 persen. Jika ditarik dari titik resminya pada 2010 saat jumlah penduduk mencapai puncaknya di angka 128,05 juta jiwa, Jepang telah kehilangan 5 juta penduduk dalam rentang waktu 15 tahun.

Akibat tren ini, posisi Jepang dalam peringkat populasi global merosot dari peringkat ke-11 ke peringkat ke-12, digeser oleh Ethiopia.

Penuaan Penduduk dan Sentralisasi Tokyo

Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang menjelaskan bahwa penurunan drastis ini dipicu oleh tingginya angka kematian alami akibat kombinasi rendahnya angka kelahiran (depopulasi) serta pesatnya penuaan struktur penduduk.

Berdasarkan geografis, penurunan populasi terjadi di 45 dari 47 prefektur di seluruh Jepang. Hanya dua wilayah yang mencatatkan pertumbuhan positif, yakni Pemerintah Metropolitan Tokyo (naik 1,4 persen) dan Prefektur Okinawa (naik 0,1 persen).

Bahkan, wilayah penyangga Tokyo seperti Saitama, Chiba, dan Kanagawa yang pada sensus sebelumnya masih tumbuh, kini berbalik mengalami penurunan. Hal ini semakin mempertegas konsentrasi arus migrasi penduduk yang tertuju ke pusat kota Tokyo.

Saat ini, populasi Tokyo mencapai 14,246 juta jiwa atau menyumbang 11,6 persen dari total penduduk Jepang. Sementara di tingkat pemerintah daerah dasar, sebanyak 1.558 dari 1.719 kotamadya (90,6 persen) secara nasional mencatatkan penurunan jumlah warga.

Berdasarkan komposisi jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki tercatat sebanyak 58.977.826 jiwa dan perempuan 63.276.698 jiwa, dengan rasio jenis kelamin sebesar 94,5 laki-laki per 100 perempuan.

Jumlah Rumah Tangga Rekor Tertinggi, Rata-rata Anggota Keluarga Terendah

Di tengah penurunan populasi, fenomena menarik terlihat pada struktur tempat tinggal. Jumlah total rumah tangga di Jepang justru melonjak ke angka tertinggi sepanjang sejarah, yakni mencapai 57,12 juta rumah tangga. Hal ini didorong oleh maraknya fenomena rumah tangga yang dihuni oleh satu orang (single household).

Namun, rata-rata jumlah anggota per rumah tangga menyusut menjadi 2,15 orang—angka terendah sejak survei ini mulai digelar pada tahun 1970. Tokyo mencatatkan rata-rata anggota rumah tangga terendah di seluruh negeri, yakni hanya sebesar 1,88 orang per rumah tangga.

Respon Pemerintah Jepang

Menanggapi hasil survei tersebut, Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Geira, menegaskan komitmen pemerintah untuk mengambil tindakan nyata dalam konferensi pers resminya.

"Kita sekali lagi menegaskan bahwa penurunan populasi semakin tajam. Sangat penting untuk mengurangi kecemasan masa depan masyarakat dengan cara meningkatkan pendapatan generasi muda," ujar Minoru Geira.

Ia juga menyoroti masalah ketimpangan wilayah akibat fenomena Tokyo-centric. "Pemerintah perlu mendorong percepatan penyebaran penduduk dan ekspansi perusahaan secara regional agar tidak menumpuk di ibu kota," tambahnya.

Sensus Nasional Jepang merupakan survei statistik berkala setiap lima tahun yang digelar Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi untuk memetakan kondisi riil seluruh rumah tangga, termasuk warga negara asing. Data statistik ini menjadi pijakan hukum vital bagi pemerintah dalam menentukan formula pajak hibah lokal hingga penataan ulang daerah pemilihan umum di Jepang.

Laju Penurunan Populasi Jepang Melonjak Tiga Kali Lipat, Tokyo Makin Padat
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin