Namun, penampakan yang terlihat jelas dalam citra satelit itu bukanlah material padat baru yang mendadak muncul membentuk telur.
Kepala Pengamat Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, menjelaskan bahwa fenomena visual tersebut merupakan hasil interaksi alami di kawasan kawah setelah aktivitas erupsi.
"Kalau itu adalah kolaborasi antara belerang dengan air, juga busa dari kontaminasi morfologi itu sendiri, terjadinya pascaerupsi," ujar Suwarno, Sabtu (19/9/2026).
Hasil Reaksi Belerang dan Air Pascaerupsi
Kemunculan gumpalan tersebut tidak terlepas dari proses dinamis yang tengah berlangsung di dalam kawah Gunung Anak Krakatau. Suwarno menegaskan, perubahan morfologi yang tertangkap sensor satelit bukan menandakan adanya struktur geologi baru.
Sebaliknya, kondisi lingkungan kawah pascaerupsi memicu reaktivitas kimiawi. Keberadaan belerang yang bercampur dengan air serta kondisi kontaminasi pada morfologi kawah menghasilkan akumulasi busa alami. Busa inilah yang ketika difoto dari sudut pandang atas (satelit) membentuk pola melingkar dengan bagian tengah berwarna pekat, menyerupai telur ceplok.
Imbauan Keselamatan: Jangan Mendekat
Meski bentuknya unik dan memancing rasa penasaran publik, fenomena reaksi belerang dan air ini menyimpan potensi bahaya tinggi, terutama paparan gas beracun yang dapat mengancam keselamatan jiwa.
Masyarakat dan wisatawan diimbau keras untuk tidak mendekati kawasan kawah maupun area rawan Gunung Anak Krakatau hanya demi menyaksikan fenomena tersebut secara langsung. Potensi pelepasan gas berbahaya pascaerupsi masih menjadi ancaman utama di sekitar area kawah.

0Komentar
Berikan Komentar yang Sopan dan Santun !